Pendekatan Hipnoterapi pada Mahasiswa Berprestasi dengan Depresi Berat, Konflik Relasi, dan Keyakinan Mistis

Pendekatan Hipnoterapi pada Mahasiswa Berprestasi dengan Depresi Berat, Konflik Relasi, dan Keyakinan Mistis oleh dr.Bram Natanael
Seorang mahasiswa hukum laki-laki berusia 21 tahun, saat ini berada di semester 5, memiliki prestasi akademis yang cemerlang. Ia berhasil masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi dan kini menjadi asisten dosen.
Namun, mahasiswa tersebut sedang mengalami depresi berat dan telah empat kali melakukan percobaan bunuh diri. Ia sudah pernah berkonsultasi dengan psikolog dan menjalani terapi ruqyah karena merasa mengalami gangguan mistis. Baik psikolog maupun terapis ruqyah menyarankan agar ia segera menikah.
Analisis Kasus
- Mahasiswa hukum 21 tahun, berprestasi (prestasi akademik + asisten dosen).
- Mengalami depresi berat, sudah 4x percobaan bunuh diri → risiko tinggi (high risk suicide).
- Pernah ke psikolog & terapi ruqyah → masih merasa tertekan.
Faktor stres utama:
- Keluarga tidak suportif (terutama ayah).
- Hubungan toksik dengan pria berkeluarga (LGBT) → masalah identitas, penolakan sosial, rasa bersalah.
- Keyakinan spiritual → merasa diikuti jin, makin memperparah kecemasan & gangguan tidur.
Pendekatan Hipnoterapis Profesional
Sebagai hipnoterapis, kita tidak bisa langsung "menghapus depresi" atau "mengusir jin". Tugas kita:
- Membangun rasa aman (safety & trust) → karena klien ini sudah rentan suicide, fondasi utama adalah membuat dia merasa ada tempat aman untuk bercerita.
Contoh : “Terima kasih sudah mau datang dan mempercayakan ceritamu di sini. Aku tahu, belakangan ini kamu merasa lelah, seakan tidak ada tempat yang benar-benar bisa mengerti. Di sini, tidak ada yang akan menghakimi. Ini adalah ruang aman untukmu. Kamu bebas bercerita, atau diam, sesuai yang kamu butuhkan. Semua yang kamu katakan tetap aman di antara kita.”
2.Menangani trauma emosional → konflik dengan orang tua, rasa bersalah dari hubungan toksik, dan tekanan identitas dengan tehnik hipnoterapi.
3.Mengajarkan coping mechanism agar dia punya kendali diri menghadapi pikiran buruk dan gangguan tidur dengan tehnik hipnoterapi.
Tahap Intervensi Hipnoterapi
1. Pre-talk & rapport
o Validasi perasaan klien: “Kamu sudah melewati banyak hal berat, dan itu wajar kalau tubuh serta pikiranmu merasa lelah.”
o Hindari memberi solusi instan (“menikah”, “berdoa lebih rajin”), karena ini bisa membuat klien makin merasa gagal.
2. Stabilisasi emosi (hipnosis ringan – relaksasi & pernapasan)
o Ajarkan anchoring → misalnya setiap kali cemas, tarik napas dalam + tekan jari tertentu → menandai rasa tenang.
o Ajarkan sleep suggestion → sebelum tidur, visualisasi tubuh rileks dari ujung kaki hingga kepala.
3. Ego strengthening
o Sugesti penguatan identitas:
“Kamu berharga bukan karena orang lain, tapi karena dirimu sendiri. Prestasimu, kebaikanmu, dan keberanianmu untuk bertahan menunjukkan kekuatanmu.”
4. Release emosi terpendam (hypno catharsis / age regression)
o Eksplorasi akar luka batin, khususnya relasi dengan ayah (misalnya perasaan tidak dihargai, ditolak).
o Lakukan forgiveness therapy → bukan berarti membenarkan, tapi membebaskan diri dari beban emosi.
5. Future pacing & reframe
o Arahkan klien membayangkan masa depan yang sehat, mandiri, punya kehidupan yang bermakna.
o Fokus pada impian yang bisa dicapai tanpa bergantung pada hubungan toksik.
Catatan Penting
- Risiko bunuh diri sangat tinggi → hipnoterapi tidak boleh dilakukan sendirian tanpa kolaborasi dengan psikiater. Ia wajib mendapat pendampingan medis (mungkin dengan obat anti-depresan).
- Gangguan tidur, sakit badan, perasaan diikuti jin → ini bisa hasil dari psikosomatis akibat stres berat. Dalam hipnoterapi bisa dibantu dengan suggestion for comfort & safety.
- Soal mistis/jin → kita validasi keyakinannya, jangan dibantah langsung. Namun kita arahkan bahwa apa pun yang terjadi, tubuh dan pikirannya tetap bisa belajar untuk tenang dan kuat.
Rekomendasi Tindakan Segera
1. Pastikan safety: ada pendamping atau hotline jika muncul dorongan bunuh diri lagi.
2. Kolaborasi: psikiater + hipnoterapis + support circle (teman baik, mentor, komunitas).
3. Hipnoterapi fokus pada:
o Penguatan identitas diri.
o Melepaskan ikatan emosional toksik.
o Regulasi emosi & tidur.
Penutup
Kasus ini menunjukkan bahwa depresi pada individu berprestasi bukan hanya persoalan psikologis semata, tetapi juga terkait erat dengan faktor keluarga, relasi, dan keyakinan personal. Hipnoterapi dapat menjadi salah satu pendekatan pendukung yang efektif untuk membangun rasa aman, menguatkan identitas diri, serta membantu klien menemukan kembali kendali atas pikiran dan emosinya.
Namun, karena risiko bunuh diri sangat tinggi, intervensi ini harus selalu dilakukan secara hati-hati, dengan kolaborasi multidisiplin bersama psikiater dan dukungan sosial yang memadai. Tujuan utama bukan sekadar mengatasi gejala, tetapi menolong klien agar dapat menjalani hidup yang lebih sehat, bermakna, dan mandiri.