Kasus HIV Kian Bertambah, dr. Khansa Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
kasus HIV kembali menjadi perhatian publik
"Saya tidak pernah merasa sakit, jadi tidak mungkin HIV."
Kalimat ini masih sering terdengar di masyarakat. Padahal, justru banyak kasus HIV ditemukan pada orang yang tampak sehat dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Belakangan ini, kasus HIV kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah daerah di Indonesia melaporkan peningkatan jumlah temuan kasus baru, terutama pada kelompok usia produktif.
Kondisi ini menimbulkan banyak pertanyaan: apakah HIV semakin mudah menular? Siapa saja yang berisiko? Dan mengapa jumlah kasus masih terus bertambah meskipun informasi kesehatan semakin mudah diakses?
Menurut dr. Khansa, salah satu penyebab utama masih tingginya angka HIV adalah karena banyak orang terlambat melakukan pemeriksaan.
"Masalah terbesar HIV bukan hanya penularannya, tetapi karena banyak orang tidak menyadari dirinya terinfeksi. Saat gejala muncul, sering kali penyakit sudah memasuki tahap lanjut," jelas dr. Khansa.
HIV Masih Menjadi Tantangan Kesehatan Global
Berdasarkan data dari WHO dan UNAIDS, hingga akhir tahun 2024 terdapat sekitar 39 juta orang hidup dengan HIV di seluruh dunia. Meski pengobatan semakin berkembang, setiap tahun masih ditemukan jutaan kasus baru.
Di Indonesia sendiri, HIV masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sebagian besar kasus baru ditemukan pada kelompok usia produktif, yaitu usia yang sedang aktif bekerja, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan sosial.
Ironisnya, banyak penderita baru mengetahui status HIV setelah mengalami penurunan daya tahan tubuh yang cukup berat.
Mengapa Kasus HIV Masih Bertambah?
Kemajuan teknologi dan akses informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman masyarakat.
Masih banyak mitos yang beredar, mulai dari anggapan bahwa HIV hanya menyerang kelompok tertentu hingga keyakinan bahwa seseorang pasti terlihat sakit jika terinfeksi HIV.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Seseorang dapat hidup bertahun-tahun dengan HIV tanpa menunjukkan gejala yang jelas. Selama periode tersebut, virus tetap dapat merusak sistem kekebalan tubuh secara perlahan.
"Karena gejalanya sering tidak spesifik, banyak orang merasa sehat dan tidak merasa perlu melakukan tes. Inilah yang membuat diagnosis sering terlambat," ujar dr. Khansa.
Gejala HIV Tidak Selalu Mudah Dikenali
Pada fase awal, sebagian orang mungkin mengalami:
Demam berkepanjangan
Nyeri tenggorokan
Ruam kulit
Pembesaran kelenjar getah bening
Kelelahan yang tidak biasa
Namun setelah fase tersebut, gejala dapat menghilang selama bertahun-tahun.
Inilah yang sering membuat HIV disebut sebagai "silent infection" atau infeksi yang berjalan diam-diam.
Ketika daya tahan tubuh mulai menurun, penderita dapat lebih mudah mengalami infeksi berulang, penurunan berat badan yang tidak diinginkan, diare kronis, hingga infeksi oportunistik yang serius.
Deteksi Dini Bisa Mengubah Segalanya
Kabar baiknya, HIV saat ini bukan lagi penyakit yang tidak dapat dikendalikan.
Dengan terapi antiretroviral (ARV), penderita HIV dapat memiliki harapan hidup yang panjang dan kualitas hidup yang baik. Bahkan, ketika jumlah virus berhasil ditekan hingga tidak terdeteksi (undetectable), risiko penularan melalui hubungan seksual menjadi sangat rendah.
Konsep ini dikenal secara global dengan istilah:
U = U (Undetectable = Untransmittable)
Artinya, seseorang yang rutin menjalani pengobatan dan memiliki viral load tidak terdeteksi tidak akan menularkan HIV melalui hubungan seksual.
Karena itu, mengetahui status HIV sedini mungkin menjadi langkah yang sangat penting.
HIV Tidak Menular Lewat Aktivitas Sehari-hari
Salah satu alasan mengapa stigma terhadap ODHIV (Orang dengan HIV) masih tinggi adalah karena banyak masyarakat yang belum memahami cara penularannya.
HIV tidak menular melalui:
Bersalaman
Berpelukan
Berbagi makanan atau minuman
Menggunakan toilet yang sama
Batuk dan bersin
Gigitan nyamuk
Sebaliknya, HIV dapat menular melalui:
Hubungan seksual tanpa perlindungan dengan orang yang terinfeksi.
Penggunaan jarum suntik secara bergantian.
Penularan dari ibu ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui jika tidak mendapatkan terapi yang tepat.
Paparan darah yang terinfeksi.
Memahami fakta ini penting agar masyarakat tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga tidak memberikan stigma kepada mereka yang hidup dengan HIV.
Jangan Tunggu Gejala
Banyak orang berpikir bahwa pemeriksaan HIV hanya diperlukan ketika tubuh sudah sakit.
Padahal, tes HIV justru paling bermanfaat dilakukan sebelum gejala muncul.
Jika seseorang merasa pernah memiliki faktor risiko atau hanya ingin memastikan kondisi kesehatannya, pemeriksaan HIV merupakan langkah yang bijak dan bertanggung jawab.
Tes HIV saat ini juga jauh lebih mudah, cepat, dan rahasia dibandingkan beberapa tahun lalu.
Pesan dr. Khansa untuk Masyarakat
Meningkatnya jumlah kasus HIV bukanlah alasan untuk takut berlebihan. Yang lebih penting adalah meningkatkan kesadaran, menghilangkan stigma, dan mendorong masyarakat untuk berani melakukan deteksi dini.
"HIV bukan lagi penyakit yang harus ditakuti secara berlebihan. Yang perlu kita khawatirkan justru keterlambatan diagnosis. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang seseorang untuk hidup sehat dan produktif," tutup dr. Khansa.
Klinik Simpang Pemda mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga. Jangan menunggu gejala muncul. Kenali faktanya, hindari stigma, dan lakukan pemeriksaan bila diperlukan. Karena langkah kecil hari ini bisa menjadi perlindungan besar untuk masa depan.
TPMD dr. Bram Natanael
Diskusi & Komentar